Pagi masih gelap saat lelaki bergegas menuju pasar. Di kios berukuran 4 x 4 meter pemuda itu mulai mengeluarkan ikan dari tumpukan es dalam fiber. Rasa kantuk bercampur aduk dengan cuaca pagi, ditambah lagi dengan dinginnya es yang terasa hingga ke tulang.
Ini memang sudah menjadi pekerjaan yang harus dilakoni seorang toké bangku. Ia harus menyiapkan ikan dagangannya sebelum para pembeli datang. Ikan-ikan yang ditumpuk akan dibeli oleh para mug?e untuk diecer ke kampung-kampung.
Adalah Agustiar, pemuda kelahiran 18 Agustus 1993 di Desa Mon Keulayu, Kecamatan Gandapura, Bireuen. Pemuda ini memiliki kisah hidup yang terbilang rumit. Namun, kerasnya hidup justru kemudian membawa dia menjadi pribadi tangguh layaknya seorang lelaki sejati.
Saat masih berumur belasan tahun, Agustiar hanyalah seorang remaja biasa yang sama seperti kebanyakan anak di usianya. Hari-hari dilalui dengan gembira di tengah keluarga. Ia pun tak pernah kesulitan dengan kebutuhan sehari-harinya karena seluruh biaya kehidupannya diharap dari orang tua.
Namun, semua berubah saat memasuki 2014. Allah swt. menakdirkan sang ayah tutup usia. Saat itu umur Agustiar baru menginjak 21 tahun, dan saat itulah kehidupan Agus berubah drastis. Ia terpaksa mengganti peran ayah menjadi tulang punggung keluarga untuk menghidupi ibu dan kedua adiknya.
Sebelum meninggal dunia, ayahnya bekerja sebagai pemasok ikan di pasar ikan Gandapura. Di pasar itu ayahnya memasok ikan untuk para pedagang lain untuk diecerkan ke kampung-kampung di kawasan itu. Dalam bahasa Aceh profesi semacam itu sering disebut dengan toké bangku.
Sebagai anak sulung dari tiga bersaudara, sejak saat itu Agustiar harus mengambil peran ayahnya sebagai toké bangku. Ia harus rela bekerja keras setiap hari demi membantu ibunya menanggung beban keluarga.
Sang ibu memang memiliki usaha kecil-kecilan sebagai penjual pakaian angsuran. Baju-baju tersebut dibeli oleh ibunya dari toko untuk kemudian diangsurkan ke warga di desa. Namun, keuntungan yang didapat sang ibu sungguh kecil. Karena itulah Agustiar tak tega melihat ibunya bekerja seorang diri.
“Beliau jualan baju angsuran, kalau banyak yang pesan alhamdulillah ada sedikit rezeki, kalau tidak ada yang pesan tidak ada keuntungan,” ujarnya.
Di usianya yang masih terbilang sangat muda, menjadi toké bangku memang tak mudah. Lingkungan pasar adalah lingkungan yang keras, dan dia harus ‘bersaing’ dengan para toké bangku lainnya yang lebih tua dan berpengalaman.
Namun, bermodalkan keberanian, Agustiar perlahan bisa menyesuaikan keadaan. Hari demi hari ia jalani dengan penuh keikhlasan. Tidak ada keluhan atau rasa malu dari hati pemuda itu.
Setiap paginya, setelah subuh di tengah cuaca yang terkadang sangat dingin, Agustiar menjalani profesinya dengan ikhlas. Dari hasil berjualan itulah Agustiar sanggup membiayai kuliahnya sendiri serta menanggung biaya pendidikan kedua adiknya yang masih di bangku SD dan SMA.
“Biasanya saya jualan dari jam 6 sampai jam 9 atau jam 10 sudah beres-beres, setelah itu baru saya kuliah,” ujar Agustiar.
Agustiar tercatat sebagai seorang mahasiswa Jurusan Keperawatan di Stikes Muhammadiyah Lhokseumawe. Sekarang dia sudah memasuki semester 8.
Dari usahanya menjual ikan, Agustiar terkadang memang mampu mendapat keuntungan hingga Rp200 ribu per hari. Namun, tak jarang pula ia harus pulang dengan keuntungan yang sedikit.
“Kalau dalam sehari terkadang dapat 200 ribu, itu kalau cuaca baik, kalau cuaca buruk keuntungan bisa Rp100 ribu. Malah kami harus tambah modal beli es untuk ikan biar tak busuk,” kata Agustiar.
Dari keuntungan tersebut, selain disisipkan sebagai tambahan modal, juga dipergunakan untuk biaya hidup dan sekolah kedua adiknya.
“Semua dari uang itu, kuliah juga dari situ, adik sekolah juga dari uang itu,” ujar Agustiar. Bahkan, untuk biaya kuliahnya sendiri Agustiar harus membayar sebesar Rp2,5 juta per semester.
Perjuangan untuk bisa tetap kuliah memang cukup berat. Dengan berjualan ikan hingga pukul 10.00 WIB setiap harinya, Agustiar harus mengorbankan sebagian waktu kuliahnya, terutama untuk jam perkuliahan pagi. Akibatnya, Agustiar sering ditegur oleh para dosen.
“Kalau ditegur sama dosen sudah berkali-kali, tapi mau bagaimana lagi, kalau saya tidak begitu, siapa yang mau menjaga kedai saya, bagaimana saya bisa kuliah,” ujar Agustiar.
Meskipun bekerja toké bangku, cukup membuatnya lelah dan mengganggu jadwal perkuliahannya, Agustiar mengaku tak mungkin meninggalkan profesi tersebut lantaran selama ini hanya dari pekerjaan itulah semua kebutuhan keluarga terpenuhi.
Agustiar hanya berharap mendapat beasiswa untuk dapat meringankan beban yang ditanggungnya. Ia tak ingin pendidikan kedua adiknya terputus. Ia juga bertekad menyelesaikan kuliahnya yang hanya tinggal satu semester lagi.
“Saya tidak berharap banyak, mungkin kalau ada sedikit beasiswa untuk perjuangan terakhir saya di kampus. Sekarang saya sudah semester delapan, itu pun kalau rezeki, kalau tidak ada, ya tidak apa-apa juga,” ujar Agustiar
Sumber : mediaaceh.co


Tidak ada komentar:
Posting Komentar